Postingan

TENTANG

Maqbul Halim Itu

Nama saya adalah MAQBUL HALIM.  Maqbul adalah nama pemberian dari ayah Abd Halim (meninggal 10 September 2017), seorang petani sakti. Pendidikan terakhir saya adalah sarjana Ilmu Komunikasi di Universitas Hasanuddin Makassar tahun 1999. Saya menyelesaikan pendidikan sampai SMA di Kabupaten Wajo.  Saya lahir pada 2 Februari 1972 pada sebuah desa kecil dan terpencil di Kecamatan Belawa, Kabupaten Wajo (210 km sebelah utara Kota Makassar). Saya dibesarkan di kampung halaman ini bersama enam saudara kandung lainnya, tiga laki-laki dan dua perempuan. Ibu saya adalah Andi Tenriesa Laibu (75 tahun) yang juga tetap bermukim di Belawa sampai saat ini.  Berbagai aktivitas saya pernah geluti, antara lain jurnalist (wartawan), aktivis NGO, politisi, organisasi pelajar dan mahasiswa, pengurus organisasi kemasyarakatan, penyelenggara pemilu, pengusaha, tim ahli pemerintahan, peneliti dan konsultan media dan jurnalistik, dan lain-lain.  Di antara semua aktivitas-aktivitas itu, saya...

Sahabat Besar Telah Pergi, Selamat Jalan Pak Erwin (1)

Gambar
Roh itu telah pegi, kembali kepada pemiliknya, pembuatnya, Allah SWT Azza wa Jallah. Demikianlah, Rabu, 12 Agustus 2026, di Jakarta, sahabat saya H. Andi Erwin Hatta Sulolipu telah pergi meninggalkan kehidupan dunia untuk selamanya.  Ia memang berpulang tidak dalam sekejap. Tetapi kenapa harus sesegera itu. Ketika pertama kali mendapatkan kabar ini, saya seperti sedang mimpi. Sulit mempercayai.  Pukul 10:00 pagi hari itu, saat sedang menyiram dan menata pot bunga di rumah, teman Abdulrahman atau Ammank menelpon menanyakan kabar ini. Setelah saya mendapat klarifikasi dari keluarga dekatnya, fix, kabar ini benar adanya.  Saya pun meraih kursi kecil, lalu duduk menghadap ke arah kiblat. Badan saya menjadi kaku selama melafalkan bacaan Al Fatihah untuk Pak Erwin yang telah tiada. Lalu saya tertunduk. Ratusan kisah kebersamaanku dengannya tetiba telintas di dalam ingatanku, dalam semenit, hingga akhirnya saya meneteskan air mata sedih.   Sebelumnya, saya tahu bahwa Pak Er...

Saya Harus Profesor Karena Banyak Cicilan Mobil dan Rumah

Gambar
Makassar, 13 Januari 2026 Sabtu 10 Januari 2026, saya menghadiri undangan resepsi anak dari mantan kepala sekolah saya saat di SMA Muhammadiyah Belawa, Ustad H. Mawardi. Saya menumpang mobil Wahyuddin Halim, kakak, yang juga punya tujuan yang sama menghadiri resepsi itu. Kami berempat di kabin mobil, adik Nurul Ulumi (bahagia yang disebut nama Haerul Ulum) sebagai driver. Saya di depan samping driver. Istri Wahyuddin dan istrinya Jovie Mufarrokha duduk di jok tengah belakang. Kami memilih melewati jalan tol melalui pintu tol di pertigaan Jln Hertasning dan Jln Pettarani menuju daerah Daya, bagian utara kota Makassar.    Selama satu jam perjalanan, saya dan Wahyuddin berbincang ikhwal bahwa akhirnya dia menyandang Jabatan Fungsional akademik tertinggi, yaitu Fungsional Ahli Utama, atau biasa juga disebut dengan kata PROFESOR. Sahabat dan kolega Wahyuddin di UINAM dan di luar UINAM memang sudah lama menantikan jabatan funsional ini, termasuk kami dari keluarga Halim. Di internal...

Mental PERANTAU

Gambar
Oleh: Maqbul Halim Kiat mengenali seseorang yang dikendalikan oleh mental perantau. Atau PASSOMPE dalam bahasa Bugis. Seseorang yang sedang merantau, atau sedang di rantauan, dia tidak peduli bagaimana kondisi dirinya di perantauan. Seorang perantau hanya peduli bagaimana orang-orang di di kampungnya atau orang sekampungnya (di Wajo, di Luwu, di Soppeng, misalnya) mengenal dirinya sebagai orang hebat, terhormat, atau besar di perantauan.   Di masa lampau, ketika orang-orang yang di rantau yang pulang kampung, mereka memanggul radio/tape besar di bahunya. Ia menenteng alat itu sejak turun dari kapal laut hingga jalan keliling kampung sebelum tiba di rumahnya. Kasetnya diputar, dan volume suaranya memekakkan telinga kodok.  Di lengan kirinya, ada arloji RADO mengkilap keemasan, melingkar. Ia duduk di atas bendala dalam dokar, yang diarak keliling kampung.  Di masa sekarang, orang-orang yang di rantau pulang kampung, mereka menenteng jabatan, dan uang yang banyak. Di Youtube...

Orator Cuci Piring

Gambar
IDENTITAS (Pernah) Dua Wajah (7 selesai) Oleh Maqbul Halim Pada momen Bantimurung , ada semacam ruang membandingkan antara statusku sebagai reporter magang dan tanggung jawabku berhadapan dengan polisi dan tentara waktu itu. Saya menganggap itu bukan ujian, tapi keasyikan melayani Identitas di teras depan. Selain itu, dan seiring waktu yang mengharuskanku mejalani proses reporter magang, saya merasa sedang menapaki anak tangga yang tidak menanjak. Bagaimana tidak, saya mempersepsi diriku waktu itu sebagai aktivis mahasiswa yang sedang moncer di catwalk Mimbar Bebas kampus. Saya diberi julukan podium "Makcbulatov". Beberapa senior aktivis mahasiswa keceplos memujiku, sebagai aktivis mahasiswa yang sedang naik daun (bukan ulat ya). Nyatanya, selama berbulan-bulan, kami justru mendapatkan tugas mencuci piring dan gelas kotor.  Di kantor Identitas lantai VI rektorat, tidak ada sofa, atau semacam ruang tamu. Yang ada hanya meja kerja khusus untuk komputer PC yang waktu itu masih C...

Murung di Bantimurung

Gambar
IDENTITAS (Pernah) Dua Wajah (6) Oleh Maqbul Halim Rasa-rasanya pada sore itu, yang tersisa hanya "gerombolan" Identitas yang masih utuh duduk melingkar berkumpul di bawah gasebo, dalam cahaya hutan yang kian temaram. Gasebo ini memang tidak dilengkapi pencahayaan untuk rapat pada malam hari. Suara mengaji dari speaker TOA masjid menjadi penanda bakal tiba waktu solat magrib, tidak lama lagi. Seorang petugas pengelola wisata Bantimurung menghampir gasebo kami, dan butuh berkomunikasi dengan penanggung jawab kegiatan. Mungkin sekadar untuk menyampaikan sebuah pesan. Saya lalu bergegas menjauh dari gasebo sembari menggiring petugas tersebut agar perbincangan raker di gasebo  tidak terganggu. Saya memberi isyarat telunjuk di bibir, agar petugas ini menahan diri untuk tidak berbicara sebelum posisi kami betul-betul sudah jauh dari gasebo.  Inti kedatangan petugas pengelola ini hanya menyampaikan dan mengingatkan bahwa waktu bagi tamu untuk kunjungan wisata telah habis dan rombon...

Sengketa di Layout Tempelan

Gambar
IDENTITAS (Pernah) Dua Wajah (5)  Oleh Maqbul Halim Sebelumnya, saya sempat menyebut ada sisa ketegangan di dapur redaksi Identitas saat hari berangkat raker ke Bantimurung. Seorang senior dan juga petinggi Identitas, merasa dirinya dizalimi. Senior ini sudah ber-Identitas lebih dahulu 4 tahun daripada saya sendiri. Di kesempatan itu, dia menuding adik-adiknya yang masih berstatus reporter magang, telah berbuat zalim pada dirinya. Dia memprotes perlakuan tersebut, namun sepertinya dia tidak ingin frontal. Saya tidak menyangka ia hanya mengeluh seperti itu. Bukan waktaknya yang seperti itu. Kalau ada kata yang tidak tepat namun tidak meleset jauh untuk menggambarkan sosoknya, saya pilih kata angker.  Peran senior ini sangat strategis, karena bertugas sebagai produser, terutama saat proses pra cetak Identitas di percetakan Sulawesi Jln Mappanyukki. Selain sebagai produser, dia juga masih aktif meliput dan menulis berita sebagai reporter. Kalau dia sudah turun meliput, saya dan ...