Saya Harus Profesor Karena Banyak Cicilan Mobil dan Rumah

Nurul Ulumi (herul ulum), Wahuddin Halim, H. Mawardi Mannungke, Saya

Makassar, 13 Januari 2026

Sabtu 10 Januari 2026, saya menghadiri undangan resepsi anak dari mantan kepala sekolah saya saat di SMA Muhammadiyah Belawa, Ustad H. Mawardi. Saya menumpang mobil Wahyuddin Halim, kakak, yang juga punya tujuan yang sama menghadiri resepsi itu. Kami berempat di kabin mobil, adik Nurul Ulumi (bahagia yang disebut nama Haerul Ulum) sebagai driver. Saya di depan samping driver. Istri Wahyuddin dan istrinya Jovie Mufarrokha duduk di jok tengah belakang. Kami memilih melewati jalan tol melalui pintu tol di pertigaan Jln Hertasning dan Jln Pettarani menuju daerah Daya, bagian utara kota Makassar.   

Selama satu jam perjalanan, saya dan Wahyuddin berbincang ikhwal bahwa akhirnya dia menyandang Jabatan Fungsional akademik tertinggi, yaitu Fungsional Ahli Utama, atau biasa juga disebut dengan kata PROFESOR. Sahabat dan kolega Wahyuddin di UINAM dan di luar UINAM memang sudah lama menantikan jabatan funsional ini, termasuk kami dari keluarga Halim. Di internal keluarga Halim, Wahyuddin sudah kerap mendengar sindirian yang terdengar menekan, bahwa sudah banyak orang telah membuktikan, bahwa meraih jabatan profesor itu semudah membalik tangan, seenteng mengedipkan mata. Jika mendapat tekanan seperti itu, Wahyuddin hanya tersenyum. Ia lebih banyak tidak merespon dengan ujaran. 

Junior-junior Wahyuddin mantan mahasisnya yang juga teman akrabku seperti Mustagfir Sabri (akrab disapa Moses) yang mantan anggota DPRD Makassar, kerap juga menanyakan kepada saya, kenapa Wahyuddin tidak mengurus jabatan Profesornya. Attock Suharto, dosen UIN Datokarama Palu Sulawesi Tengah yang juga alumni UINAM, pun juga seperti Moses bertanya, kenapa Wahyuddin tidak mengurus jabatan fungsional Profesornya. 

Ada satu momen awal tahun 2022, momen bulan puasa Ramadhan. Sekda Kota Makassar Muhammad Anshar waktu itu, menggelar acara buka puasa bersama di rumah dinas kawasan PDAM Jln Ratulangi. Seharusnya sebagai pembawa hikmah waktu adalah seorang mubaligh dan dosen UINAM. Karena mubalig itu berhalangan, ia digantikan oleh Wahyuddin Halim. Setahun setelah momen itu, Sekda Anshar berbincang santai bersama saya. Ia pun menceritakan bahwa ia pernah kedatangan seorang perceramah dari UINAM. Penceramah itu, katanya, ada kemiripan dengan dengan saya saat saya berbicara: pemilihan kata, susunan dan struktur ide pembicaraan. Yang sangat dia perhatikan adalah mimik penceramah itu, yang katanya sangat mirip dengan mimik wajah saya. Saya pun penasaran lalu bertanya. 

Anshar menyebut nama Wahyuddin Halim setelah saya menanyakan siapa gerangan nama muballig yang mirip dengan saya itu. Sontak saya menjawab bahwa itu kakak kandung saya. Saya jelaskan bahwa dia itu dosen di UINAM. Dia anak ketiga dan saya anak keempat dari kami tujuh bersaudara. Anshar menahan tatapannya ke arah saya dengan mulut terbuka sedikit, karena pengakuan saya itu sangat mengejutkan baginya. Yang saya ingin katakan di sini adalah Sekda Anshar waktu itu sempat diluruskan Wahyuddin karena menyapanya dengan kata Profesor. Alasan Anshar menyapanya profesor karena wawasan dan ilmu yang Wahyuddin sampaikan dalam ceramahnya, kata Anshar, pasti orang ini sudah profesor. 

"Betul pak Maqbul, saya kira dia sudah profesor. Dia luruskan sapaanku. Soalnya, hikmah ramadhan dan puasa yang beliau bawakan, sangat mencerahkan secara keilmuan dan wawasan ke-Islaman. Saya meminta maaf waktu itu," ujar Anshar dalam perbincangan itu. 

===

Agustus 2025, ia ke Jakarta, di kantor Kementerian Agama. Sebelumnya, ia diberitahukan bahwa ia harus hadir sendiri untuk menyelesaikan beberapa keperluan administrasi di bekas kantor Yaqut Cholil Qoumas tersebut. Di kantor itu, ia hampir tidak mengurus hal-hal yang dimaksud. Banyak sahabat dan koleganya di sana yang tanpa diminta bantuan, merasa bertanggung jawab untuk membantu urusan administrasi Wahyuddin. 

Dari perjumpaan dengan kolega dan sahabatnya itu, cerita Wahyuddin selama perjalanan menuju lokasi resepsi pernikahan di ujung Utara Kota Makassar, ia sangat disesalkan mereka itu karena lambat mendapatkan jabatan fungsional profesor. Wahyuddin menuturkan bahwa sejak dirinya menyelesaikan studi doktor Ph.D-nya bidang Antropologi di Australian National University (ANU) Australia tahun 2015, sahabat dan koleganya yang di kemenag itu selalu menunggu pengusulan jabatan fungsional dari Wahyuddin. Setiap menerima berkas dari UINAM, mungkin sepanjang setiap tahun, mereka selalu mengira berkas yang datang adalah berkas pengusulan Wahyuddin. 

"Waktu urus berkas itu, mereka tanya ke saya, kenapa saya tidak urus jabatan fungsional profesorku selama ini. Saya jawab bahwa profesor bukan tujuan saya sebagai dosen di UINAM. Untuk apa saya merepotkan diri, apalagi sampai belanja investasi," tuturnya.

Selama ini, katanya, ia selalu gagal mencegah stake-holder, katakanlah publik, menggiring dirinya membiarkan kebohongan akademik. Sudah tiga tahun terakhir ia direpotkan oleh undangan narasumber, undangan sebagai penguji eksternal di Jawa dan Jakarta, atau brosur cetak dan di sosmed, selalu menyabut namanya yang didahului nama jabatan PROFESOR. Saat ia tidak "mood", dia kadang mensyaratkan penghapusan nama jabatan Profesor di depan namanya itu agar ia bisa menyetujui undangan narsumber.  

Ada juga moment, ia juga bahkan harus menyerah. Salah satu contoh adalah saat seremoni pembukaan Musabaqah Qira’atil Kutub Internasional (MQKI) yang dibuka oleh Menteri Agama AGH Nasaruddin Umar tahun lalu di Pompes Asy'adiyah Macanang Wajo tahun lalu, Wahyuddin mengaku bahwa ia hanya bisa terdiam saat guru-guru dan ulama pesantren itu menyapanya "Prof Wahyu". Di Kampus UINAM Samata, ia sudah terbiasa menegur mahasiswa yang menyapanya dengan kata "Prof". 

Wahyuddin menyelesaikan studi sarjananya di Fakultas Ushuluddin dan Filsafat IAIN (Sekarang UIN) Alaluddin tahun 1993. PTN Islam ini sekarang populer dengan akronim UINAM. Dia selesai setahun setelah saya diterima sebagai mahasiswa baru di Universitas Hasanuddin tahun 1992. Sekolah menengah atas diselesaikan di Madrasah Aliyah Muhammadiyah Belawa, kabupaten Wajo tahun 1989. Lulus Sipenmaru (Sistem Penerimaan Mahasiswa Baru) di IKIP Ujunpandang tahun itu juga. Tapi, Wahyuddin lebih memilih melanjutkan kelulusan di UINAM, jurusan Aqidah dan Filsafat, Fakultas Ushuluddin. 

Akhir tahun 2025 baru-baru ini, ia sudah mendapatkan Surat Keputusan Menteri Agama tentang pengangkatannya sebagai pengajar yang bersatus fungsional Profesor di UIN Alauddin Makassar. Saya dengar, bulan Februari atau paling lambat Maret tahun ini, dia akan dikukuhkan sebagai profesor oleh Rektor UINAM. 

Pada kesempatan perbincangan dalam perjalanan, saya memang punya niat untuk menanyakan bagaimana dengan kiriman karangan bunga atau papan bunga pada saat pengukuhannya nanti. Saya terus menunggu saat yang tepat untuk menanyakan itu. Pasalnya, kami masih asyik berbincang tentang mobil SUV yang sudah sangat tua, yang saya anggap sudah sangat lucu. Saya katakan bahwa memang mobil SUV-diesel-nya sudah tua, namun tetap nyaman. Saya katakan, tapi saya merasa ada yang berubah. Wahyuddin penasaran mengapa saya merasa ada yang berbeda pada mobilnya. 

"Apanya berubah? Apanya yang lain?" tanyanya menggebu-gebu.

"Sebelum keluar SK profesor ta, kabin mobil ini tidak seberwibawa seperti ini rasanya. Saya tidak salah."

Wahyuddin terlihat sulit menahan ketawanya, dan perutnya mengembang melampiaskan ketawanya. 

Dia melanjutkan ceritanya soal jabatan fungsional profesor. Dia mengetahui dengan baik, setiap kali ada pengukuhan jabatan profesor, hampir semua dekan dan pejabat-pejabat di UINAM diminta konfirmasi untuk memberikan ucapan selamat melalui papan bunga. Pemesan selalu menyampaikan bahwa sudah ada yang membayarkan. Yang dikonfirmasi tinggal memberi persetujuan. Papan bunga nanti akan berjejer lebih pajang dan lebih tinggi dari pagar di lokasi gedung pengukuhan. Papan bunga itu akan didokumentasikan dalam bentuk foto pada masing-masing unit papan. Setelah itu, yang diprofesorkan akan memberikan ucapan terima kasih kepada pengirim papan bunga tersebut. 

Wahyuddin menganggap seakan itu tradisi akademik, tradisi kampus. Itulah makanya, dia berencana ingin menyerukan secara publik untuk tidak mengirimkan ucapan selamat melalui karangan bunga pada saat ia dikukuhkan dalam jabatan fungsional profesor. Saya juga sempat bercerita sekelumit pra ujian tutup yang saya jalani di program Studi Magister Departemen Sosiologi Universitas Hasanuddin awal Desember 2025 lalu. Saya tuturkan bahwa sebelum hari H ujian tutup, saya diingat oleh jajaran pimpinan Program Pascasarjana Departemen Sosiologi agar saya cukup menyiapkan panganan ubi rebus, jagung rebus, dan pisang gepok rebus, yang nilai keseluruhannya tidak lebih dari Rp 200 ribu. Saya lanjutkan bahwa saya juga diingat agar tidak menyiapkan minuman mineral, kopi dan teh, karena semua sudah tersedia di lounge departemen untuk para penguji. Mendengar cerita ini, Wahuddin menggeleng sembari mengusap jidat menimpali bahwa itu mustahil terjadi di kampusnya. Penguji dan peserta ujian skripsi dan tesis di kampusnya sudah kompak dan saling memahami. 

Wahyuddin kerap bercerita kepada saya tentang ritual-ritual kampus yang tidak ada kaitannya dengan proses pencapaian akademik. Bahkan cenderung memberatkan mahasiswa, baik di program sarjana maupan di program pascasarjana. Ia mencontohkan suguhan parcel dan nampan raksasa yang berisi segala jenis makanan. Satu nampan satu penguji. Jadi kalau lima penguji, berarti lima nampan. Sebagian besar penguji, kata Wahyuddin, menerima semua itu dengan bangga, selain menganggap itu sebagai rejeki yang tidak boleh ditolak. Itu belum termasuk buket bunga atau parsel yang kerap harganya lima ratus ribu rupiah per buket. Wahyuddin mengaku tidak pernah mau menerima semua itu. Bahkan ketika "sesajen akademik" itu diantar ke rumahnya, Wahyuddin tetap menolak dan menyarankan "sesajen akademik" itu diantar ke rumah pegawai kampus saja. 

Akhir 2010-an, Wahyuddin juga punya cerita ironi di kampusnya. Saat ia menjabat Kepala Pusat Studi Islam, Sains, dan Teknologi UINAM, ia pernah mendatangkan dosen tamu dari universitas bergengsi dari Amerika Serikat untuk memberi kuliah umum. Ruangan yang berkapasitas 100 peserta untuk kuliah umum itu, tidak sampai separuh kursi terisi. Hal berbeda ketika kampus mendatangkan pejabat eselon dari Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Republik Indonesia untuk memberi kuliah umum, peserta mata kuliah lebih dari 100 orang. Seluruh dekan dan wakil rektor hadir. 

Wahyuddin sebenarnya diam-diam punya misi yang kurang sedap. Ini yang mungkin menjadi penyebab kenapa jabatan profesor itu lambat dia emban. Ada juga yang berkerja keras untuk mendapatkan jabatan profesor itu karena kebutuhan mendesak di masa mendatang, seperti cicilan rumah, cicilan mobil, dan seterusnya. 

Wahyuddin tidak menuding, tetapi punya misi untuk tidak mengeluarkan uang hingga puluhan hingga ratusan juta rupiah untuk mendapatkan jabatan profesor tersebut. Ia hanya mengeluarkan biaya tiket ke pesawat ke Jakarta pulang pergi untuk hanya membubuhkan tanda tangan di kantor dirjen pendidikan kementerian agama. Prosedur lainnya seperti penerimaan SK jabatan profesor tersebut ditanggung oleh kementerian dan UINAM. 

Ia juga berkelakar dalam perjalanan itu mengenai artikel-artikelnya dimuat di jurnal-jurnal internasional. Menurutnya, ia tidak perlu mengeluarkan uang puluhan juta rupiah agar sebuah artikel yang diatas-namakan dirinya dapat dimuat di jurnal-jurnal internasional, termasuk yang terindeks Scopus Q1. Minatnya menulis artikel untuk jurnal-jurnal ilmu pengetahuan memang bukan untuk meraih gelar doktor atau jabatan profesor, atau jabatan guru besar. Ia juga kerap mendapat arahan khusus ketika mereview suatu artikel seseorang pada jurnal tertentu. Ia tidak segan mengusul berhenti saja sebagai reviewer jika diarahkan seperti itu, dan ia yakin banyak akademisi lain yang mengincar pekerjaannya itu. 

Suasana tol yang lengang membuat perjalan kami bakal berlangsung singkat. Ada juga hikmahnya ketika keluar tol untuk menuju Daya, truk kontainer merayap padat dan lambat untuk memutar balik di bawah "underpass" menuju kawasan industri dan pergudangan Tamalanrea. Begitu pun ketika perjalanan kami sudah melintas di jalan akses menuju Terminal Regional Daya Makassar dari arah tol, hujan turun sangat deras dan lebat, menggenangi badan jalan setinggi ban mobil. Itu semua yang membuat perjalan kami mengalami pelambatan, yang artinya saya masih bisa mengobrol dengan Wahyuddin tentang itu semua tadi; parsel, galar profesor, papan bunga, dan seterusnya. 

Kami pun tiba di Gedung Dr. Berbudi, RS Tajuddin Chalid, Daya. Di dalam gedung resepsi, saya ikut memberikan ucapan selamat dan doa restu kepada dua pasangan mempelai, anak kesembilan dan ke-10 dari Ustad Mawardi. Sayangnya ustad Mawardi sendiri sudah pulang meninggalkan gedung lebih awal, jauh sebelum kami tiba. Dalam usianya yang ke-82, Ustad Mawardi tidak bisa duduk lebih lama atau berdiri lebih lama atau beraktivitas sibuk, dan harus segera istirahat jika tiba-tiba memerlukan istirahat. Tempat untuk istirahat itu tidak tersedia di gedung resepsi. 

Usai menghadiri resepsi, kami melanjutkan perjalanan 15 menit menemui ustad Mawardi di kediamannya, rumah anaknya yang kedelapan. Beliau menerima kami dengan sambutan hangat dan penuh keharuan. Ustad Mawardi sangat berarti dan penting bagi saya dan kami di keluarga Halim.

Usai perjalanan itu, saya meng-update status WA sebagai inti dari perbincangan. Itu untuk menjawab pertanyaan kolom status WA, "apa yang sedang kamu pikirkan?". 

"Saya Harus Profesor Karena Banyak Cicilan Mobil dan Rumah" []

Komentar

Populer

Identitas versus Wajah Sendiri

Orator Cuci Piring

Lintasan Politik MAQBUL HALIM

Maqbul Halim Itu

Murung di Bantimurung

Sengketa di Layout Tempelan

Kontroversi dan Differensi