Sahabat Besar Telah Pergi, Selamat Jalan Pak Erwin (1)
Roh itu telah pegi, kembali kepada pemiliknya, pembuatnya, Allah SWT Azza wa Jallah. Demikianlah, Rabu, 12 Agustus 2026, di Jakarta, sahabat saya H. Andi Erwin Hatta Sulolipu telah pergi meninggalkan kehidupan dunia untuk selamanya.
Ia memang berpulang tidak dalam sekejap. Tetapi kenapa harus sesegera itu. Ketika pertama kali mendapatkan kabar ini, saya seperti sedang mimpi. Sulit mempercayai.
Pukul 10:00 pagi hari itu, saat sedang menyiram dan menata pot bunga di rumah, teman Abdulrahman atau Ammank menelpon menanyakan kabar ini. Setelah saya mendapat klarifikasi dari keluarga dekatnya, fix, kabar ini benar adanya.
Saya pun meraih kursi kecil, lalu duduk menghadap ke arah kiblat. Badan saya menjadi kaku selama melafalkan bacaan Al Fatihah untuk Pak Erwin yang telah tiada. Lalu saya tertunduk. Ratusan kisah kebersamaanku dengannya tetiba telintas di dalam ingatanku, dalam semenit, hingga akhirnya saya meneteskan air mata sedih.
Sebelumnya, saya tahu bahwa Pak Erwin ke Jakarta pada Senin pagi, 10 Agustus. Sore hari Senin itu, saya diberitahu Pak Surya atau Pak Cuya, yang mengaku bahwa ia ke Jakarta dengan pesawat yang sama dengan Pak Erwin.
Pak Cuya hendak mengajaknya berbarengan keluar meninggalkan bandara Terminal 3 Soekarno-Hatta. Rupanya, Pak Erwin bergeser duluan meninggalkan pak Cuya. Bahkan Pak Cuya mengajaknya menyeberang ke Singapore namun ditolak halus dengan alasan sudah ada janji.
Entah bagaimana saya bisa punya informasi bahwa Pak Erwin ke Jakarta itu adalah untuk berobat, pasang Cincin jantung. Bahkan informasi saya itu sempat diberitakan media online. Hari-hari sebelum itu adalah rutinitas Pak Erwin yang normal.
Tapi Rabu pagi kepergiannya itu, saya masih tidak percaya. Saya juga berharap bahwa saya sedang berpimpi. Tapi tangki penyemprot air yang sedang saya jinjing, bukanlah sesuatu dalam mimpi. Bagi saya, kabar ini sangat berat sebagai kenyataan.
Ketika melihat langsung mayatnya tiba di rumah duka, rumah kediamannya, saya masih tidak percaya. Saat tersadar, saya pun percaya bahwa Pak Erwin sudah tidak ada.
Nyata, ia telah pergi. Begitu dalam pikiranku. Tapi saya berpikir lagi. Ia memang telah pergi, tapi masih akan kembali. Mungkin lupa sesuatu. Tapi saya sadar lagi bahwa ini adalah kematian. Dokter di Jakarta sudah menyatakan Pak Erwin meninggal.
Tetapi info dari anaknya, Nisa Erwin, berbeda. Pak Erwin ke Jakarta karena ada janjian dengan seorang pengusaha dari Lampung. Untuk urusan pekerjaan, bukan urusan berobat atau yang serupa dengan itu. Bahkan Rabu pagi, hari meninggalnya, ia sudah punya tiket Garuda Jakarta Makassar, penerbangan pertama.
Kabar tentang kepergian Pak Ketua, begitu saya selalu memanggilnya, telihat segalanya tergesa gesa. Tak ada kata siap atau persiapan. Saya bisa membayangkan tekanan mental yang dialami keluarga almarhum, Ibu Noni, istrinya; tiga anaknya, Nisa, Syira dan Rafi.
Tapi demikianlah kematian. Bukan sesuatu yang kedatangannya bisa dipasangi notifikasi, yang gejalanya memberikan kepastian. Saya merasakan itu, bahwa saya ingin, saya dan Pak Erwin bisa menikmati kopi-susu panas di Kios Lagaligo Lasinrang pada akhir 2031, misalnya. Atau saya mengirimkannya kue ulang tahun pada 9 Januari 2034.
Pak Erwin selalu mempunyai kebaikan. Saya tahu, banyak sahabat, kawan, dan teman-temannya kehilangan Pak Erwin dan kehilangan kebaikannya. Semoga menjadi jariyah.
Allah SWT Azza wa Jalla, selalu punya kehendak tentang ajal yang misteri bagi setiap manusia. Dan, Allah SWT membuka tabir misteri ajal Pak Erwin itu pada Rabu pagi 12 Agustus di Jakarta. Manusia tidak memiliki apa-apa ketika saatnya tiba. Pak Ketua Erwin pun kembali kepada Sang Penciptanya, Pemiliknya.
Makassar, 13 Agustus 2026
Lanjut ke (2)

Komentar