Postingan

Opini: DIA Yang Namanya Tak Boleh Disebut

Gambar
"TAPI jangan salah, jabatan lebih mengubah banyak hal. Terkadang membuat sebagian orang lupa siapa orang yang menjadikannya seperti saat ini". **** Di langit, di atas balai bambu beratap rumbia, Voldemort melancarkan pesan di atas. Pesan itu lalu menggema keluar dari pesantrennya Kemenkumham, hingga menyelinap di rongga telinga Danny Pomanto setiap berpidato di lorong-lorong kota yang sempit dan terang. Waktu itu, petang baru saja bermula. Langit merah saga berangsur pekat di ufuk barat, melatar siluet kubah Mal Ratu Indah. Mengenakan sarung tenun Pelekat khas Lombok, Danny muncul dengan senyum yang lapang, tapi tatapan matanya berat. –Saya yakin, Danny Pomanto ingin bercerita, tentang sesuatu yang mengobati. “Pak Maqbul, adakah tanda-tanda pengkhianat di wajahku ini?” Malam itu, saya terlanjur tidak bergairah untuk bicara, apalagi menjawab. Menghadapi Danny Pomanto malam itu, seperti menelisik sebuah buku diari, yang proaktif dan terus bertutur. Danny seakan meletakkan saya ...

Danny Pomanto dan VOC

Gambar
Oleh: Maqbul Halim (Ketua Tim Media dan Opini DIAmi (Danny Pomanto - Indira Mulyasari) RAKYATKU.CM,MAKASSAR -Banyak pihak yang berkepentingan di Pilkada Kota Makassar 2018. Kepentingan tersebut dikendalikan oleh para pemangku kepentingan yang berbeda-beda. Kesemuanya itu bermuara pada calon-calon yang sekarang ini sedang meretas jalan menuju Pilkada Kota Makassar 2018.  Setidaknya, ada dua cara pandang melihat kepentingan-kepentingan tersebut. Cara pandang yang pertama adalah dalam istilah “in order to”. Cara pandang pertama ini memberikan pemahaman, yakni dalam rangka apakah sehingga pihak-pihak tersebut berkepentingan terhadap Pilkada Kota Makassar 2018! Cara pandang kedua adalah apa yang memotivasi (motive to) sehingga pihak- pihak tersebut berkepentingan terhadap Pilkada Kota Makassar 2018.  Cara pandang pertama meletakkan latar belakang menjadi penjelas. Latar belakang itu antara lain dalam rangka agama, politik, bisnis, budaya, atau primordialisme. Cara pandang kedua mel...

Hawa Nafsu

Gambar
SUATU petikan pesan-pesan bijak dari Khalifah Islam ke4 Ali Bin Abi Thalib RA menjadi favorit saya hari ini. Ali RA berpesan, “Kekayaan adalah sumber hawa nafsu.” Saudara dekat dari kekayaan adalah kekuasaan, jabatan, tanah (wilayah) dan harta. Hawa nafsu adalah juga suatu keduniawian. Hawa nafsu adalah energi yang menggerakkan dan mendobrak. Jika hawa nafsu adalah suatu program yang bergerak, meka kegiatannya adalah penaklukan, pendudukan, penyerangan, perampasan, perluasan. Jika hawa nafsu adalah suatu ruang, maka inilah ruang yang paling luas yang pernah ada. Ruangan hawa nafsu tidak berbatas, tidak pula terbatas. Meski begitu, Hawa nafsu terus meluas, diperluas, dan memperluas. Membesar dan diperbesar. Bertambah dan ditambah. Jika hawa nafsu adalah energi yang harus ditundukkan oleh agama, mungkin inilah yang dimaksudkan Bruder William dari Baskerville. William adalah pensiunan inkusitor The Name of Rose (Il nome della rosa), tokoh sentral dalam memoar seorang novis ...

Saya Beriklan, karena itu Saya Ada

Gambar
Sumber Gambar: http://www.lensaindonesia.com/ Tekanan yang paling sulit dan berat dialami oleh orang-orang yang tidak ikhlas adalah ketika kebaikan dan kesalehan dirinya tidak diketahui orang lain. Mereka telah kerahkan seluruh daya dan tenaganya untuk berbuat kebaikan. Mereka juga menunda kesenangan diri mereka agar terlihat saleh dan alim. Pada saat yang sama, orang banyak ternyata tidak mengetahuinya. “Orang banyak” ini dapat diistilahkan dengan kata “publik”. Istilah populernya dalam Bahasa Indonesia adalah “masyarakat”. Di sini letak krusialnya, kerap masyarakat tidak mengetahui perbuatan baik itu siapa gerangan. Orang-orang yang berbuat baik ini pun tergiring ke situasi dimana mereka berada di bawah tekanan jiwa. Mereka mengalami stres, keadaaan jiwa yang tidak normal. Kita contohkan saja Petta Congkang, nama rekaan untuk cerita ini. Pada tingkatan yang lebih gila, Petta Congkang yang stres ini bisa saja lantang menyalahkan publik. Menyalahkan masyarakat. K...

Korban Partai

Gambar
sumber: Kompas.com Suatu pagi di pangkal Mei 2015, saya menyertai seorang birokrat senior memenuhi panggilan salah satu partai politik (parpol) di Kota Makassar. Hari masih pagi, jalan AP Pettarani masih lengang. Sekretariat parpol tingkat provinsi yang dituju juga belum “bangun”. Dalam cerita ini, saya memberi nama birokrat ini dengan nama “Petta”. Petta ini, seperti juga figur-figur lain yang hendak menjadi calon kepala daerah, saya memberinya gelar “ calon korban ”. Kenapa korban? Ikut saja cerita ini, akan terjawab mengapa mereka lebih awal saya menyebutnya calon korban . Petta ini hendak menjalani ritual pemaparan visi-misi atas rencananya menjadi calon kepala daerah pada Pilkada Serentak tahun 2015 ini. Pencoblosannya pada Desember 2015. Sementara Pencalonan pada akhir Juli 2015.  Bentangan waktu masih lama dari Mei ke Juli, dari Mei ke Desember. Masih bisa wafat beberapa kali sebelum mendaftar jadi calon di kantor KPU kabupaten pada akhir Juli. Konon, miri...

Uang Setan dan Uang Iblis

Gambar
From: http://images.rapgenius.com Seorang pemilik kedai kopi di Kota Makassar bernama Rudy, bertanya kepada saya tadi siang sembari saya menyeruput secangkir kopi. Dari tatapan matanya, saya tahu ia ingin bertanya tentang pemilihan kepala daerah (Pilkada). Dia katakan bahwa seorang calon gubernur di Indonesia harus siap-siap dengan uang sejumlah paling kurang Rp 200 milyar jika ingin ikut bertarung dalam pemilihan kepala daerah. Rudy juga menyebutkan bahwa untuk calon bupati, harus menyiapkan duit paling kurang Rp 50 milyar. Itulah yang ingin Rudy konfirmasi kepada saya, apakah itu betul? Saya jawab bahwa itu betul. Betul 150 persen. Rudy tiba-tiba berpikir membandingkan uang sebanyak itu jika ia menggunakannya untuk menjalankan “bisnis halal”. Lalu saya meluruskan pikiran Rudy yang komparatif itu. Pilkada adalah suatu arena dimana “uang iblis” dan “uang setan” saling mengintai dan mengintimidasi. Iblis memakan “uang setan” dan setan memangsa “uang iblis”. Pilk...